Sat. Oct 4th, 2025

Merangin-Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir kabupaten Merangin, Jambi merupakan bangunan tradisional yang sarat akan sejarah dan telah menjadi saksi perkembangan peradaban kebudayaan masyarakat di Kecamatan Tabir yang umurnya saat ini sudah mencapai ratusan tahun.


Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir ini menjadi objek budaya yang perlu di perkenalkan kembali sebagai rumah tradisional yang masih terjaga keaslian bentuk dan struktur bangunannya.


Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Tabir, Mukhtar YS, mengatakan jika sejarah dan makna Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir yang dibangun dengan kayu, dan tanpa paku ini menjadi simbol bahwa masyarakat setempat masih menjunjung tinggi nilai-nilai warisan budaya.


“Disebut perkampungan Rumah Tuo karena di kampung ini masih ada bangunan rumah tua yang diperkirakan didirikan tahun 1330 dan masih bertahan hingga sekarang. Desa ini juga merupakan desa tertua di Provinsi Jambi dan telah ditempati selama kurang lebih 700 tahun,” ujar Mukhtar Senin (29/7/2024).


Desa ini disebut Dusun Tuo, lanjutnya, karena terdapat sekitar 60 rumah tua
peninggalan nenek moyang Suku Batin. Konon, rumah ini merupakan rumah paling tua dan dijadikan sebagai museum serta pusat wisata budaya. Rumah tersebut dijaga dan
dirawat oleh generasi ketujuh Suku Batin, bernama Iskandar.


Berdasarkan penuturannya, dari 60 keluarga yang ada, mereka tersebar di beberapa kampung seperti Lubuk Tebing Tinggi, Talang Genteng, Mudik Bukit, dan Bukit Senang Hati.

Awalnya, karena tinggal di hutan dan menghadapi banyak risiko binatang buas, mereka bersepakat untuk bersatu dan tinggal di satu tempat serta membangun sebuah kampung bernama Ujung Tanjung Muara Semayam dengan 19 kepala keluarga.


“Pemimpin pertama kampung itu diberi gelar Datuk Rio Depati, yang bertugas mengatur kehidupan kampung agar rukun dan tertib,” tambah Mukhtar sambil menggambarkan betapa pentingnya peran pemimpin dalam menjaga ketertiban dan kelestarian budaya kampung.


Selain memiliki bangunan yang unik, setiap bagian dari struktur Rumah Tuo memiliki
makna tersendiri sesuai dengan adat-istiadat setempat. Pintu Rumah Tuo dibangun hanya setinggi satu meter, sehingga pengunjung perlu menunduk yang melambangkan nilai kesopanan.

Ruangan dan lantai pada Rumah Tuo pun dibangun sesuai peruntukannya. Ruangan pertama untuk menggelar pertemuan yang memiliki 3 tingkat lantai yakni untuk ninik-mamak (tokoh adat), keluarga, dan pekerja. Ruangan kedua untuk tempat beristirahat dan ruangan ketiga sebagai dapur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *